• Perbaikan Jalan raya Ciseuti
Showing posts with label DOKUMEN. Show all posts
Showing posts with label DOKUMEN. Show all posts

Wednesday, September 10, 2014

DMGR BATCH IV TAHAP II





Tim penilai Desa Mandiri Gotong Royong (DMGR) Batch IV Tahap II Kabupaten Subang  yang terdiri dari beberapa ahli dalam aspek pemerintahan melakukan evaluasi di GOR Desa Jalancagak, Kecamatan Jalancagak, Rabu (10/09/2014). Acara berlangsung melalui Expose Kepala Desa, Ketua TP. PKK, dan Ketua LPM, dengan penilaian seputar aspek : Keagamaan, kesehatan, ekonomi,  sosial, dan pendidikan.

Kepada tim penilai DMGR Kabupaten Subang, Kepala Desa Jalancagak Dadang Suhendi, SE memaparkan mengenai kondisi demografi, Sejarah Desa Jalancagak serta Prestasi pembangunan Desa Jalancagak pada Tahun 2013 diantaranya Program Rutilahu 20 penerima manfaat, leaning, Pengaspalan Jalan, Paving Block di Kp. Ciseuti RW 03 & 04, pembangunan drainase dan Sarana Air Bersih (SAB) yang disalurkan ke Kp. Ciseuti Rt 18, 19, 20, 21 sepanjang 6 km melalui sumber mata air Desa Curugrendeng.

Selanjutnya Ketua LPM Desa Jalancagak Menjelaskan Bahwa selain Pembangunan yang didanai Oleh Pemerintah Baik BKU D/K Maupun ADD serta dan hibah lainnya, Pemerintah Desa Jalancagak telah mampu melaksanakan Pembangunan Infrastruktur yang bersumber dari dana Swadaya Masyarakat Murni, diantaranya Pengerukan Sumber Mata Air Cileuleuy RW 01, Bedah Rumah Di RT 10/11 RW 02, serta Pengerasan Jalan Usaha Tani Di RW 04 yang menghabiskan dana sekitar 50 jt rupiah.

Pada kesempatan tersebut, Camat Jalancagak Drs. Nana Mulyana, M.Si. menyampaikan bahwa Program DMGR ini merupakan program pemerintah kabupaten dengan maksud mendorong  lahirnya desa mandiri yang mampu mengurus desanya sendiri baik sektor ekonomi, kesehatan, kebudayaan, dan pendidikan serta meningkatnya potensi sumber daya manusia dan alam di masing-masing desa, serta diharapkan, setiap aparatur pemerintah desa harus berperan aktif, meningkatkan kinerjanya menuju desa mandiri gotong royong.

Hadir dalam pelaksanaan evaluasi tersebut Kodim 0605 serta 4 (Empat) kepala desa lain di Kabupaten Subang seperti Kel. Parung Kecamatan Subang, Desa Kawung Luwuk Kecamatan Cisalak, Desa Cimeuhmal Kec. Tanjungsiang, dan Desa Curugrendeng Kecamatan Jalancagak dan beberapa aparatur pemerintahan dari Desa masing-masing seperti LPM, BPD dan para kader. Acara dimulai dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Mars PKK, dan Subang Gotong Royong yang di bawakan Oleh TP. PKK Desa Jalancagak.

Monday, March 10, 2014

PRAKTIK LAPANGAN III NINDYA PRAJA INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI Tahun 2014



InstitutPemerintahan Dalam Negeri (IPDN) sebagai lembaga pendidikan di lingkungan Kementrian Dalam Negeri merupakan salah satu perguruan tinggi kedinasan sebagai penggabungan STPDN dan IIP berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun Tahun 2004 tentang penggabungan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri ke dalam Institut Ilmu Pemerintahan dan menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Di dalam perkembangannya dibentuk pula kampus regional dibeberapa daerah, yakni di Sumbar, Riau, Kalbar, Sulut, Sulsel, NTB, dan Papua.
Dalam pengaplikasian pendidikan di IPDN ditempuh melalui tiga jalur pendidikan yaitu pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan atau disingkat dengan Jarlatsuh. Bagian Pelatihan, sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya mempunyai uraian tugas menyelenggarakan kegiatan pelatihan mulai dari perencanaan, operasioanalisasi hingga evaluasi, yang diwadahi dalam sub bagian evaluasi dan sub bagian pengembangan pelatihan. Untuk menunjang pencapaian kegiatan dimaksud, maka Bagian Pelatihan IPDN mempunyai visi dan misi yakni “Unggul dalam Membentuk Pamong Praja yang Terampil dan Kompetitif dalam Menghadapi Tugas –Tugas Penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah”
Untuk menunjang terwujudnya visi tersebut, maka diselenggarakanlah Praktek Lapangan sebagai ciri khas IPDN. Dimana, kegiatan ini diselenggarakan setiap akhir semester genap dan berjenjang mulai tingkat muda, madya, hingga nindya kecuali tingkat wasana mengikuti pilihan kegiatan Latihan Integrasi Taruna Dewasa Nusantara (Latsitardanus) atau Bhakti Karya Praja (BKP) pada semester VII. Praktek Lapangan III atau PL III bagi Nindya Praja merupakan bentuk pendidikan dengan cara memberikan pengalaman belajar di lapangan atau di luar kampus. Kedudukan pelatihan lapangan adalah wajib, artinya Praja diharuskan untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan praktek lapangan tanpa terkecuali.
Dalam Praktek Lapangan kali ini IPDN mengambil lokasi di Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat. Dimana praja ditempatkan pada SKPD, Kecamatan, dan Desa/Kelurahan disekitar kabupaten Subang. Kegiatan ini dilaksanakan selama 30 hari, yakni mulai tanggal 7 Maret sampai dengan 5 April 2014.  Diharapkan kegiatan Praktek Lapangan ini akan mampu memberikan dampak bagi seluruh pihak. Terlebih, untuk menunjang bidang pembangunan, kemasyarakatan, dan pemerintahan di kabupaten Subang.
Sebagai salah satu desa penempatan Praktek Lapangan III bagi Nindya Praja IPDN, Desa Jalancagak telah bersedia memfasilitasi 20 orang praja dalam menggali ilmu dan pengalaman sebagai pengetahuan empirik guna menjadi bekal mereka ketika kelak terjun ke lapangan. Para praja ditempatkan di salah satu rumah warga di desa Jalancagak. Mereka turut serta dalam mewujudkan program-program desa serta membenahi administrasi desa. Semoga kegiatan ini benar – benar mampu menjadi sarana pembelajaran bagi praja.


Monday, February 17, 2014

DEKLARASI ODF




DEKLARASI ODF 2014
Tahun 2014 Kecamatan Jalancagak telah mendeklarasikan kecamatan ODF (Open Defecation Free) yaitu Stop Buang Air Besar Sembarang, deklarasi ODF ini dicanangkan bersamaan dengan acara Ualang Tahun ke 33 Kecamatan Jalancagak pada tanggal 16 Pebruari 2014 di Alun-alun Kecamatan Jalancagak.
Ke 7 (tujuh) desa di Kecamatan Jalancagak telah siap melaksanakan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) ke tujuh desa tersebut yaitu :
1.       Desa Jalancagak
2.       Desa Bunihayu
3.       Desa Tambakan
4.       Desa Tambakmekar
5.       Desa Kumpay
6.       Desa Sarireja
7.       Desa Curugrendeng
Dari ke tujuh desa tersebut yang mendeklarasikan ODF tahun 2014 yaitu Desa Jalancagak dan Desa Tambakmekar,  sebelumnya tahun 2008 Desa Kumpay, Tahun 2009 Desa Bunihayu, Tahun 2011 Desa Sarireja, Tahun 2012 Desa Tambakan dan Desa Curugrendeng.
Dengan demikian diharapkan angka penyakit yang berbasis lingkungan seperti diare, TB Paru, di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jalancagak akan menurun.

Tuesday, January 15, 2013

Makna Lambang Kabupaten Subang

Lambang Kabupaten SubangGambar

Perisai Bersudut Lima
Menggambarkan makna keselamatan negara, bangsa, agama, masyarakat, dan agama

Pohon Beringin Bergelombang 17 Dengan Akar Tunjang Delapan
Menggambarkan aspek sejarah Kabupaten Subang (Kutawaringin); kesatuan bangsa yang berjiwa Pancasila dan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945; pemerintahan sebagai pelindung rakyat; dan pelaksanaan pembangunan daerah bidang material maupun spiritual

Benteng Berkepala Lima Serta Benteng Bagian Bawah Berbata Empat dan Lima di Bawah Pohon Beringin
Menggambarkan Pancasila sebagai landasan idiil dan Undang-undang Dasar 1945 yang berkaitan pula dengan makna pembangunan material dan spiritual

Bintang Kuning Bersudut Lima
Menggambarkan karakteristik masyarakat Kabupaten Subang yang selalu bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan mengangungkan agama.

Teks

“Benteng Pancasila”
Menggambarkan warga Kabupaten Subang yang senantiasa membentengi Pancasila sebagai landasan idiil negara dari pihak-pihak yang akan menyelewengkannya. Teks ini juga menggambarkan tekad masyarakat Kabupaten Subang untuk menjadikan Pancasila sebagai benteng mental dalam mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridoi Tuhan yang Maha Esa

“Karya Utama Satya Negara”
Menggambarkan keutamaan karya untuk kepentingan negara, bangsa, dan agama

Warna

Kuning mas pada pinggir perisai, pinggir pohon beringin, dan garis pinggir benteng, serta bintang
Menggambarkan keluhuran budi dan kebesaran jiwa

Hijau tua pada dasar perisai
Menggambarkan kesuburan tanah

Coklat
Menggambarkan kawasan pedataran

Hijau muda
Menggambarkan kawasan pegunungan

Biru
Menggambarkan kawasan pantai

Peranan Desa Jalancagak Pada Zaman Kolonial

Jalur Strategis Patroli Tentara Belanda
Tugu nanas yang menjadi persimpangan empat Kabupaten Subang, Sumedang, Bandung dan Purwakarta, merupakan jalan penjagaan pada masa penjajahan Belanda.
JALAN jaga yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka, sebagai tempat penjagaan pasukan Belanda yang akan melintas untuk menjajah.
Kantor Pos yang berada tepat di depan tugu nanas, merupakan rumah peninggalan Belanda yang diduduki pribumi sejak tanggal 17 Agustus 1945. Semenjak Indonesia merdeka, jalan jaga yang kini menjadi Jalancagak, mulai bebas dilewati warga pribumi. Ketika zaman Belanda, jalan itu hanya tanah dan batu, belum ada tugu nanas. Hanya saja yang paling terkenal, karena jalan tersebut ada tiga cabang, warga pribumi menyebutnya jalan nyagak (bercabang, red). Tetapi warga menyebutnya dengan fasih Jalancagak yang hingga kini terkenal dengan tugu nanasnya.
Seiring berjalannya waktu, dengan pertambahan jumlah penduduk, pemerintahan mulai dibangun. Desa Bunihayu yang merupakan desa tertua mengawali adanya pemerintahan di kawasan tersebut pada tahun 70-an. Setelah mekar, desa Jalancagak, bertumbuhlah desa yang lain, hingga 11 desa yang mendesak untuk didirikan menjadi kecamatan.
Dari kemantren Jalancagak menjadi perwakilan daerah yang dipimpim Tajudin Nur dengan kantor di balai desa Jalancagak (saat ini kantor desa Jalancagak, red). Dorongan dari tokoh masyarakat dan pimpinan 11 desa yang menandatangani ke Bandung untuk dijadikan kecamatan. Demikian diungkapkan H. D. Sadjidin (68), tokoh masyarakat Jalancagak.
H. D. Sadjidin mengatakan, dalam prosesnya, berdirinya Kecamatan Jalancagak dengan desakan dari 11 pemerintah yang ada di wilayah Jalancagak. Pengajuan ke provinsi hingga ke pusat ditempuh dengan tekad ingin mengembangkan daerah. Melalui proses yang panjang dan perjuangan para tokoh masyarakat ditetapkannya pada tanggal 16 Februari 1981 sebagai hari lahir Kecamatan Jalancagak.
“Penetapan tersebut diresmikan Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi dan sempat bentrok dengan kecamatan tomo pada saat itu. Namun karena desakan warga Jalancagak, kecamatan diresmmikan beliau dan Dachlan sebagai camat pertama ketika itu,” kata pelaku sejarah dari tokoh pemuda yang dulu menjadi saksi dan ikut menandatangani pernyataan ingin dibangunnya kecamatan Jalancagak.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan dari berbagai sektor terus meningkat terjadi pemekaran Kecamatan Ciater dan Kasomalang.  Menandakan potensi yang luar biasa dari Kecamatan Jalancagak yang tidak dapat dikembangkan sendiri. Namun dari perkembangannya pasar dan terminal yang layak untuk daerah Jalancagak masih belum terpenuhi.
Sementara Camat Jalancagak Nana Mulyana mengatakan, Jalancagak yang dulunya jalan jaga memang harus diwujudkan. Dengan potensi wisata Subang Selatan, Jalancagak harus menjadi daerah penyangga wisatawan yang dapat mendongkrak perekonomian.
“Jalancagak sebagai pusat dari Subang selatan dari tujuh kecamatan. Sebagai jalur yang sering dilintasi. Jalancagak harus bisa berkembang dan lebih dipercantik. Terlebih lagi dengan akan dibukanya jalan tol Cikampek Palimanan (Cipali), yang berdampak porsitif bagi wilayah selatan dalam potensi wisatanya,”

Saturday, January 5, 2013